Inilah Kisah Suatu Malam Bersama Seorang Pria Gay

Sumbartime-Sabtu (30/12), suasana malam Kota Payakumbuh pukul 23.00 WIB, dingin menusuk tulang. Hujan yang turun sejak sore, membuat malam minggu di kota kuliner dan Kafe tersebut agak sedikit sepi.

Sabtu tengah malam tersebut, Sumbartime bersama seorang pria berusia remaja, sebut saja namanya Michel (20), salah satu mahasiswa di perguruan tinggi Kota Padang asal Payakumbuh, terlibat obrolan santai sambil ditemani dengan segelas kopi di salah satu Kafe Kawasan Kota Payakumbuh.

Iklan

Michel seorang pria yang dikaruniai wajah cukup tampan dengan senyum cukup menggoda bagi kaum hawa, berkulit kuning langsat bersih dan berperawakan tinggi sekitar 170 cm. Pria asal Kota Payakumbuh yang kini mengaku sedang menuntut ilmu di salah satu perguran tinggi di Kota Padang.

Namun, ada yang cukup miris dari kehidupan Michel, kehidupan yang tidak lazim bagi kaum pria kebanyakan. Kehidupan seksualitas remaja pria tersebut berorentasi menyimpang (GAY). Dia lebih tertarik dengan seorang pria macho apalagi berbadan tegap dibanding kepada seorang wanita sekalipun seksy.

Sabtu malam minggu tersebut, dengan ditemani segelas kopi penghangut tubuh, Michel kepada Sumbartime, memulai menceritakan kisah kehidupan orentasi seksualitasnya yang LEBIH CENDRUNG menyukai sejenis alias gay dan sampai detik ini dia mengaku sangat menikmatinya.

Kisah itu dimulai ketika hampir dua tahun yang silam, saat Michel telah lulus dantamat belajar dari SMA di salah satu sekolah yang ada di Payakumbuh. Singkat cerita, dia diterima di salah satu perguruan tinggi di Kota Padang.

Dengan dia berkuliah di Kota Padang, Michel otomatis harus indekos dan tinggal di Ibu Kota Sumbar tersebut. Michel indekos dan tinggal di kawasan Jalan Cendrawasih bersama para anak anak kuliahan lainnya dari berbagai Kota.

Sambil menyeruput kopinya, Michel mulai melanjutkan kisah tentang awal sejarah yang merubah gaya kehidupannya dari pria kebanyakan..

Suatu malam di dalam kamar kostnya, sekira pukul 02.00 WIB, dini hari, Michel terbangun dari lelap tidurnya, dia tersentak saat merasakan ada sesuatu yang menjalar dan bergerak gerak membelai tubuhnya yang saat itu hanya bertelanjang dada.

Sebuah jari jari tangan terasa membelai halus seluruh bagian punggung serta dadanya, dia kaget dan saat menoleh, ternyata jari jemari yang bermain di sekujur tubuh bagian atasnya tersebut adalah tangan kakak seniornya yang juga merupakan teman satu kamar kost.

Saat itu dia ketakutan, merinding, namun tak berani untuk melawan, dia biarkan saja jari jemari itu bermain mengacak acak bagian atas tubuhnya. Namun dengan diamnya Michel membuat kakak seniornya, semakin berani dan semakin kurang ajar tuturnya lagi. Tiba tiba, dari arah belakang kakak kostnya tersebut memuluk erat dirinya bak seperti seorang kekasih memeluk pujaan hatinya.

Namun ujar Michel, perlakuan yang dia terima dari kakak seniornya pada dini hari tersebut hanya sebatas pelukan saja. Keesokan paginya, Saat ingin berangkat kuliah Michel berusaha menganggap kejadian pada malam itu tidak pernah ada dan tetap untuk bersikap wajar terhadap kakak seniornya tersebut, paparnya lagi.

Akan tetapi kembali perlakuan yang tidak wajar itu dia dapatkan lagi, pada malam ke esokan harinya, bahkan, tambah Michel, dengan terang terangan kakak seniornya itu (maaf) semakin beringas dan mencium badan serta wajahnya.

Mendapati kejadian tersebut, Michel berntak dan bangun bahkan sempat marah serta mendorong tubuh kakak seniornya dari atas tubuhnya. Malam itu Michel protes serta sempat mengeluarkan kata kata kasar kepada teman satu kamar satu kosnya tersebut.

Sempat terjadi emosi malam itu, bahkan kakak seniornya tersebut sempat meminta maaf dan mengaku khilaf kepada Michel. Saat itu Michel pun memaafkan atas prilaku tak senonoh yang dia dapatkan dari kakak seniornya tersebut.

Dua hari berselang, saat sore hari, sekira pukul 17.00 WIB, sambungnya lagi, melalui sarana ponsel androit, di dalam kamar kost mereka, kakak seniornya tersebut memutar sebuah film biru dan mengajak dirinya ikut menonton.

Awalnya film biru yang di putar, seperti film kebanyakan  ada peran pria dan wanita, namun setelah beberapa saat, kakak seniornya tersebut, memutar film biru terkait seksualitas pasangan gay.

Saat itulah ujar Michel lagi, saat menonton tersebut, tangan jahil kakak kosnya mulai meraba raba tubuhnya. awalnya hanya bagian tubuhnya, lalu beranjak ke bagian kehernya. Tapi aku nya lagi, dia justru saat itu menikmati bahkan cendrung membiarkan ketidak laziman itu terjadi.

Maka sore itu aku Michel, terjadilah apa yang pernah dilakukan oleh kaum Nabi Luts terhadap dirinya bersama kakak seniornya tersebut. Ironisnya, kejadian itu pun berlanjut dari hari ke hari, mereka menikmati hari hari gila tersebut di dalam kamar kost mereka.

Bahkan saking kecanduan dengan orentasi sek menyimpang tersebut, Michel mulai berselancar di grub grub gay dunia maya, mencari teman serta kenalan. Dari hasil berselancar di dunia maya tersebutlah, dirinya banyak memiliki teman dengan hoby yang sama. Bahkan gilanya lagi tutur Michel mengaku beberapa kali melakukan perselingkuhan dengan pria pria lain di samping tetap bersama kakak seniornya tersebut.

Michel mengaku,cukup banyak orang orang seperti dia di Sumbar ini. Namun menurutnya, orang orang senasib dengannya masih tetap berusaha untuk tidak terlalu vulgar muncul di permukaan. Namun sejatinya dia mengaku memiliki komunitas antar sesama mereka.

Bila ada hari hari yang dianggap istimewa, mereka kumpul bareng, dan jika dianggap cocok, mereka akan melepaskan orentasi seksualitas menyimpang mereka baik di hotel hotel kelas melati, maupun di kamar kost atau kamar dirumah teman, ungkapnya mengatakan.

Gilanya Michel mengaku pernah beberapa kali melampiaskan hasrat seksualitas menyimpangnya dengan kaumnya yang juga berasal dari ABG (Anak Baru Gede) Payakumbuh dan berstatus pelajar di Kota Payakumbuh.

Dengan menyewa sebuah kamar di salah satu hotel Kota Payakumbuh, beberapa kali dirinya dan pasangannya melepaskan hasrat seksualitas menyimpangnya, ungkap Michel panjang lebar kepada Sumbartime.

Tak terasa waktu berjalan, obrolan Sumbartime dengan Michel  yang cukup menegangkan tersebut membuat waktu berjalan cepat berlalu. Sementara itu, para pelayan kafe tempat kami mengobrol sudah mulai membersih bersihkan tempat mereka. Pukul 01.00 WIB, Minggu (31/12) dini hari, Sumbartime pun mulai undur diri pamit kepada Michel.

Sebelum pamit, Michel sempat berharap untuk bisa ngobrol bareng lagi, bahkan dirinya juga berkata, jika pertemuan untuk kedua kalinya, agar lebih spesial lagi, kita cerita tentang kisah satu malam, sambil praktek lapangan ujarnya nakal. Ahh, Sumbartime hanya tersenyum simpul sambil berkata, “kapan kapan yah,”**

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here